Disaat masalah menghampiri dalam hidup, kita simpan dan membesar, kita menjadi butuh teman untuk membantu kita, untuk mendengarkan, menghibur, mendoakan dan juga mendorong agar kita menjadi kuat. Paling tidak, hadir sebagai teman dalam kesendirian. Itulah yang terjadi di Rumah Amalia. Rumah harapan bagi anak-anak Amalia. Rumah Amalia hadir menjadi 'tempat berbagi' berbagi dalam suka dan duka, berbagi kebahagiaan dan penderitaan bagi siapapun yang telah mengalirkan air mata. Ahad pagi di Rumah Amalia ditengah ramai anak-anak Amalia dengan aktifitasnya, kami kedatangan seorang tamu, seorang gadis cantik yang berkenan 'curhat', telah lama menyimpannya sampai hidupnya menjadi tertekan dia bertutur. Dirinya dibesarkan oleh sang nenek, ayah dan ibu sudah lama meninggal dunia. Dari kecil neneknye selalu menanamkan nilai-nilai agama, belajar mengaji, sholat dan puasa. Disekolah dirinya terbilang cerdas, dari SD sampai SMA selalu renking 3 besar disekolahnya.
…sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain
Air Mata Yang Mengalir
By:
Muhamad Agus Syafii

Disaat masalah menghampiri dalam hidup, kita simpan dan membesar, kita menjadi butuh teman untuk membantu kita, untuk mendengarkan, menghibur, mendoakan dan juga mendorong agar kita menjadi kuat. Paling tidak, hadir sebagai teman dalam kesendirian. Itulah yang terjadi di Rumah Amalia. Rumah harapan bagi anak-anak Amalia. Rumah Amalia hadir menjadi 'tempat berbagi' berbagi dalam suka dan duka, berbagi kebahagiaan dan penderitaan bagi siapapun yang telah mengalirkan air mata. Ahad pagi di Rumah Amalia ditengah ramai anak-anak Amalia dengan aktifitasnya, kami kedatangan seorang tamu, seorang gadis cantik yang berkenan 'curhat', telah lama menyimpannya sampai hidupnya menjadi tertekan dia bertutur. Dirinya dibesarkan oleh sang nenek, ayah dan ibu sudah lama meninggal dunia. Dari kecil neneknye selalu menanamkan nilai-nilai agama, belajar mengaji, sholat dan puasa. Disekolah dirinya terbilang cerdas, dari SD sampai SMA selalu renking 3 besar disekolahnya.
Disaat masalah menghampiri dalam hidup, kita simpan dan membesar, kita menjadi butuh teman untuk membantu kita, untuk mendengarkan, menghibur, mendoakan dan juga mendorong agar kita menjadi kuat. Paling tidak, hadir sebagai teman dalam kesendirian. Itulah yang terjadi di Rumah Amalia. Rumah harapan bagi anak-anak Amalia. Rumah Amalia hadir menjadi 'tempat berbagi' berbagi dalam suka dan duka, berbagi kebahagiaan dan penderitaan bagi siapapun yang telah mengalirkan air mata. Ahad pagi di Rumah Amalia ditengah ramai anak-anak Amalia dengan aktifitasnya, kami kedatangan seorang tamu, seorang gadis cantik yang berkenan 'curhat', telah lama menyimpannya sampai hidupnya menjadi tertekan dia bertutur. Dirinya dibesarkan oleh sang nenek, ayah dan ibu sudah lama meninggal dunia. Dari kecil neneknye selalu menanamkan nilai-nilai agama, belajar mengaji, sholat dan puasa. Disekolah dirinya terbilang cerdas, dari SD sampai SMA selalu renking 3 besar disekolahnya.
Mari sama sama membaca surat Cinta kita
7 January 2013. Bkt
Bismillahirrahmaanirrahim
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaatuh
By : Rahima
Saya
bersumpah atas nama Allah Ta’ala, atas kebenaran kata kata yang saya sampaikan
ini, bukan sekedar permainan kata belaka. Tapi, kalimat yang berasal dari hati
terdalam, pengalaman yang berulang kali, dan penyampaian yang tiada maksud atau
unsur riya didalamnya,.kalau sepanjang hidup saya, bacaan yang sangat suka saya
membacanya, berulang kali setiap saya membacanya meneteskan air mata, tanpa
terasa, ia mengalir begitu saja.
Membacanya begitu mendalam
dan berulang melebihi disaat saya membaca surat surat cinta dari suamiku.
Pasangan Dalam Mengarungi Samudra Kehidupan
By: Muhamad Agus SyafiiSahabatku, yang ingin segera menikah. Mempersiapkan diri dan memperkokoh keimanan kepada Allah agar diberi kekuatan dan kesabaran adalah bagian yang paling fundamental dalam rumah tangga, sebab begitu bertemu dengan jodoh anda bukan berarti segala permasalahan kehidupan berakhir, namun itu titik berangkat. Berumah tangga bagaikan mengemudi bahtera di tengah samudera luas. Lautan kehidupan seperti tak bertepi, dan medan hamparan kehidupan sering tiba-tiba berubah. Memasuki lembaran baru hidup berkeluarga biasanya dipandang sebagai pintu kebahagiaan. Segala macam harapan kebahagiaan ditumpahkan pada lembaga keluarga. Akan tetapi setelah periode “impian indah” terlampaui orang harus menghadapi realita kehidupan. Sunnah kehidupan ternyata adalah “problem”. Kehidupan kita, tak terkecuali dalam lingkup keluarga adalah problem, problem sepanjang masa. Tidak ada seorangpun yang hidupnya terbebas dari problem, tetapi ukuran keberhasilan hidup justeru
terletak pada kemampuan seseorang mengatasi problem. Sebaik-baik mukmin adalah orang yang selalu diuji tetapi lulus terus, khiyar al mu’min mufattanun tawwabun.(hadis). Problem itu sendiri juga merupakan ujian dari Allah. siapa diantara ,mereka yang berfikir positif, sehingga dari problem itu justeru lahir nilai kebaikan, liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala (Q/67:2) liyabluwakum fi ma a ta kum (Q/6:165).
Sahabatku yang ingin segera menikah, carilah jodoh dunia akhirat, jodoh yang setia dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh ombak dan badai kehidupan yang menghempas bahtera rumah tangga anda, carilah pasangan yang tangguh, kuat dan kokoh, tahan penderitaan, pasangan yang hanya dengan mengharap keridhaan Allah. Maka bahtera rumah tangga anda akan bisa mengarungi samudra kehidupan dengan selamat dunia dan akhirat. Bila memang ada niat & keinginan sungguh-sungguh untuk mendapatkan jodoh. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar & memohon kpd Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk anda.
Wassalam,
Muhamad Agus Syafii
Tujuh kebiasaan memperkaya hidup
1. Kebiasaan mengucap
syukur.
Ini adalah kebiasaan istimewa yang bisa mengubah
hidup selalu menjadi lebih baik. Bahkan agama mendorong kita bersyukur tidak
saja untuk hal-hal yang baik , tapi juga dalam kesussahan dan hari-hari yang
buruk.. Ada rahasia besar dibalik ucapan syukur yang sudah terbukti sepanjang
sejarah. Hellen Keller yang buta dan tuli sejak usia dua tahun , telah menjadi
orang yang terkenal dan dikagumi diseluruh dunia. Salah satu ucapannya yang
banyak memotivasi orang adalah “Aku bersyukur atas cacat-cacat ini aku
menemukan diriku, pekerjaanku dan Tuhanku”. Memang sulit untuk bersyukur,namun
kita bisa belajar secara bertahap. Mulailah mensyukuri kehidupan, mensyukuri
berkah , kesehatan, keluarga, sahabat dsb. Lama kelamaan Anda bahkan bisa
bersyukur atas kesusahan dan situasi yang buruk.2. Kebiasaan berpikir positif.
Hidup kita dibentuk oleh
apa yang paling sering kita pikirkan. Kalau selalu berpikiran positif, kita
cenderung menjadi pribadi yang yang positif. Ciri-ciri dari pikiran yang
positif selalu mengarah kepada kebenaran, kebaikan, kasih sayang, harapan dan
suka cita. Sering-seringlah memantau apa yang sedang Anda pikirkan. Kalau Anda
terbenam dalam pikiran negatif, kendalikanlah segera kearah yang positif.
Jadikanlah berpikir positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak
hal-hal positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif
yang akan Anda alami.
3. Kebiasaan berempati.
Kemampuan berhubungan
dengan orang lain merupakan kelebihan yang dimiliki oleh banyak orang sukses.
Dan salah satu unsur penting dalam berhubungan dengan orang lain adalah empati,
kemampuan atau kepekaan untuk memandang dari sudut pandang orang lain.Orang
yang empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain, mengerti keinginannya
dan menangkap motif dibalik sikap orang lain. Ini berlawanan sekali dengan
sikap egois , yang justru menuntut diperhatikan dan dimengerti orang lain.
Meskipun tidak semua orang mudah berempati , namun kita bisa belajar dengan
membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang empatik. Misalnya, jadilah
pendengar yang baik, belajarlah menempatkan diri pada posisi orang lain,
belajarlah melakukan apa yang Anda ingin orang lain lakukan kepada Anda, dsb.
4. Kebiasaan mendahulukan yang penting.
Pikirkanlah apa saja yang
paling penting, dan dahulukanlah!. Jangan biarkan hidup Anda terjebak dalam
hal-hal yang tidak penting sementara hal-hal yang penting terabaikan. Mulailah
memilah-milah mana yang penting dan mana yg tidak, kebiasaan mendahulukan yang
penting akan membuat hidup Anda efektif dan produktif dan meningkatkan citra
diri Anda secara signifikan.
5. Kebiasaan bertindak.
Bila Anda sudah mempunyai
pengetahuan, sudah mempunyai tujuan yang hendak dicapai dan sudah mempunyai kesadaran
mengenai apa yang harus dilakukan , maka langkah selanjutnya adalah bertindak.
Biasakan untuk mengahargai waktu, lawanlah rasa malas dengan bersikap aktif.
Banyak orang yang gagal dalam hidup karena hanya mempunyai impian dan hanya
mempunyai tujuan tapi tak mau melangkah.
6. Kebiasaan menabur benih.
Prinsip tabur benih ini
berlaku dalam kehidupan. Pada waktunya Anda akan menuai yang Anda tabur.
Bayangkanlah, betapa kayanya hidup Anda bila Anda selalu menebar benih
‘kebaikan’. Tapi sebaliknya, betapa miskinnya Anda bila rajin menabur
keburukan.
7. Kebiasaan hidup jujur.
Tanpa kejujuran , kita
tidak bisa menjadi pribadi yang utuh, bahkan bisa merusak harga diri dan masa
depan Anda sendiri. Mulailah membiasakan diri bersikap jujur, tidak saja kepada
diri sendir tapi juga terhadap orang lain. Mulailah mengatakan kebenaran,
meskipun mengandung resiko. Bila Anda berbohong, kendalikanlah kebohongan Anda
sedikit demi sedikit.
Belajar yang Menyenangkan
Beberap hari lalu
saya sempat berdiskusi dengan teman sekos saya, mulanya beliau bercerita
tentang adik laki-lakinya yang malas untuk belajar padahal sebentar lagi dia
akan menghadapi ujian akhir kelulusan SD. Sebuat saja namanya “Ardi”, Ardi ini
termasuk anak yang belum bisa belajar dengan baik atau masih malas-malasan,
kalaupun dia belajar itu hanya untuk menghindari omelan kakak dan ibunyan yang
selalu menyuruhnya untuk belajar, dan bisa ditebak selama dia di ruang belajar
yang dilakukan pun hanya pura-pura belajar atau belajar asal-asalan, sekolah
pun hanya sekedar sebagai rutinitas seharian yang hanya berlalu begitu saja,
sekedar menuruti perintah orang tua.
Apa yang terjadi
pada Ardi sebenarnya juga banyak dialami anak-anak usia sekolah di masyarakat
kita. Tak terhitung lagi berapa banyak orang tua yang mengeluh dan kecewa
dengan nilai anaknya yang jeblok (jelek) karena anaknya malas belajar, dan
sebaliknya tidak jarang juga kita menemukan anak yang ngambek atau menagis
gara-gara selalu disuruh belajar. Ada orang tau yang memarahi anaknya,
mengancam si anak untuk tidak akan membelikan ini dan itu kalau si anak tidak
belajar, membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain, atau bahkan ada orang
tua yang mengunakan cara kekerasan (menjewer, menyentil, mencubit, atau
memukul). Jelas semua ini akan sangat berpengaruh pada fisik maupun psikis
siswa.
Lalu sebenarnya
bagaimanakah cara untuk mengatasi anak yang malas belajar? Masih perlukan kita
dengarkan keluhan-keluahn orang tua tentang anaknya yang malas belajar?
Haruskah anak itu ngambek atau menagis gara-gara dimarahin orang tuanya dan
disuruh-suruh untuk belajar?
Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada baiknya kalau terlebih dahulu kita mencari penyebab dari prikalu malas belajar, kemudian baru mencari solusi guna mengatasinya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada baiknya kalau terlebih dahulu kita mencari penyebab dari prikalu malas belajar, kemudian baru mencari solusi guna mengatasinya.
ANAK
malas belajar sudah menjadi salah satu keluhan umum para orang tua. Kasus yang
banyak terjadi di masyarakat adalah anak lebih suka bermain dari pada belajar.
Demikian yang diungkapkan psikolog anak Hermin R.Seviana, Psi.
Wanita yang
akarab disapa Hermin ini menjelaskan, perbuatan malas dijabarkan sebagai
tindakan yang tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu. Malas
belajar, katanya, memiliki pengertian yang artinya si anak tidak mau, enggan,
tak suka, tak bernafsu untuk melakukan aktivitas belajar.
“Jika
anak-anak tidak suka belajar dan lebih suka bermain, itu berarti belajar
dianggap sebagai kegiatan yang tidak menarik buat mereka, dan mungkin tanpa
disadari belajar dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya karena
hasilnya tidak secara langsung dapat dinikmati. Bertolak belakang dengan
kegiatan bermain yang keuntungannya dapat mereka rasakan secara langsung,”
terangnya.
Dikatakan,
anak yang malas belajar disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor intinsik
(dalam diri anak sendiri) dan faktor ekstrintik (dari lingkungan sekitar anak).
Faktor intinsik, papar Hermin, terjadi karena kurangnya waktu yang tersedia
untuk bermain, kelelahan dalam beraktivitas, misalnya, terlalu banyak bermain
atau membantu orang tua, sedang sakit dan masalah IQ/EQ anak. Sedangkan faktor
ekstrinsik, biasanya dikarenakan sikap orang tua yang tidak memperhatikan anak
dalam belajar atau sebaliknya, misalnya memaksakan anak untuk les ini itu dan
sebagainya.
“Faktor
ekstrinsik juga bisa terjadi kurangnya sarana penunjang belajar anak seperti,
meja belajar, buku penunjang , dan penerangan yang bagus dan sebagainya. Atau
bisa juga dikarenakan suasana rumah yang tidak nyaman, seperti misalnya rumah
penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara
yang pengap,” sebut Hermin.
Bagaimana
mengatasi anak yang malas belajar ini? Hermin mengatakan, langkah pertama yang
dilakukan adalah mencari sebab musababnya anak menjadi malas. Langkah
berikutnya adalah dengan menanamkan pengertian yang benar tentang seluk-beluk
belajar pada anak sejak dini.
“Terangkan
makna belajar dengan bahasa yang dimengerti anak. Menumbuhkan inisiatif belajar
mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar
pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang,” bebernya.
Ditambahkan,
langkah penting lainnya yang harus dilakukan orang tua adalah dengan memberikan
contoh “belajar” yang pada anak. Misalnya, ketika menyuruh dan mengawasi anak
belajar, orang tua juga perlu untuk terlihat belajar misalnya dengan membaca
buku-buku dan sebagainya.
Orang tua,
tutur Hermin, juga harus menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman pada
saat anak belajar. Setidaknya dengan memenuhi kebutuhan sarana belajar,
memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar.
“Sebagai selingan, orangtua
dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar
tidak tegang dan tetap menarik perhatian,” tandasnya.
Malas belajar pada anak secara psikologis merupakan wujud
dari melemahnya kondisi mental, intelektual, fisik, dan psikis anak. Malas
belajar timbul dari beberapa faktor, untuk lebih mudahnya terbagi menjadi dua
faktor besar, yaitu: 1) faktor intrinsik ( dari dalam diri anak), dan 2) Faktor
ekstrinsik (faktor dari luar anak).
1. Dari Dalam Diri Anak (Intrinsik)
Rasa malas untuk belajar yang timbul dari dalam diri anak dapat disebabkan karena kurang atau tidak adanya motivasi diri. Motivasi ini kemungkinan belum tumbuh dikarenakan anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya. Selain itu kelelahan dalam beraktivitas dapat berakibat menurunnya kekuatan fisik dan melemahnya kondisi psikis. Sebagai contoh, terlalu lama bermain, terlalu banyak mengikuti les ini dan les itu, terlalu banyak mengikuti ekstrakulikuler ini dan itu, atau membantu pekerjaan orangtua di rumah, merupakan faktor penyebab menurunnya kekuatan fisik pada anak. Contoh lainnya, terlalu lama menangis, marah-marah (ngambek) juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak.
Rasa malas untuk belajar yang timbul dari dalam diri anak dapat disebabkan karena kurang atau tidak adanya motivasi diri. Motivasi ini kemungkinan belum tumbuh dikarenakan anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya. Selain itu kelelahan dalam beraktivitas dapat berakibat menurunnya kekuatan fisik dan melemahnya kondisi psikis. Sebagai contoh, terlalu lama bermain, terlalu banyak mengikuti les ini dan les itu, terlalu banyak mengikuti ekstrakulikuler ini dan itu, atau membantu pekerjaan orangtua di rumah, merupakan faktor penyebab menurunnya kekuatan fisik pada anak. Contoh lainnya, terlalu lama menangis, marah-marah (ngambek) juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak.
2. Dari Luar Anak (Ekstrinsik)
Faktor dari luar anak yang tidak kalah besar pengaruhnya terhadap kondisi anak untuk menjadi malas belajar. Hal ini terjadi karena:
Faktor dari luar anak yang tidak kalah besar pengaruhnya terhadap kondisi anak untuk menjadi malas belajar. Hal ini terjadi karena:
a. Sikap Orang Tua
Sikap orang tua yang tidak memberikan perhatian dalam belajar atau sebaliknya terlalu berlebihan perhatiannya, bisa menyebabkan anak malas belajar. Tidak cukup di situ, banyak orang tua di masyarakat kita yang menuntut anak untuk belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan mengajarkan kepada anak akan kesadaran dan tanggung jawab anak untuk belajar selaku pelajar. Akibat dari tuntutan tersebut tidak sedikit anak yang stress dan sering marah-marah (ngambek) sehingga nilai yang berhasil ia peroleh kurang memuaskan. Parahnya lagi, tidak jarang orang tua yang marah-marah dan mencela anaknya bilamana anak mendapat nilai yang kuang memuaskan. Menurut para pakar psikologi, sebenarnya anak usia Sekolah Dasar janga terlalu diorentasikan pada nilai (hasil belajar), tetapi bagaimana membiasakan diri untuk belajar, berlatih tanggung jawab, dan berlatih dalam suatu aturan.
Sikap orang tua yang tidak memberikan perhatian dalam belajar atau sebaliknya terlalu berlebihan perhatiannya, bisa menyebabkan anak malas belajar. Tidak cukup di situ, banyak orang tua di masyarakat kita yang menuntut anak untuk belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan mengajarkan kepada anak akan kesadaran dan tanggung jawab anak untuk belajar selaku pelajar. Akibat dari tuntutan tersebut tidak sedikit anak yang stress dan sering marah-marah (ngambek) sehingga nilai yang berhasil ia peroleh kurang memuaskan. Parahnya lagi, tidak jarang orang tua yang marah-marah dan mencela anaknya bilamana anak mendapat nilai yang kuang memuaskan. Menurut para pakar psikologi, sebenarnya anak usia Sekolah Dasar janga terlalu diorentasikan pada nilai (hasil belajar), tetapi bagaimana membiasakan diri untuk belajar, berlatih tanggung jawab, dan berlatih dalam suatu aturan.
b. Sikap Guru
Guru selaku tokoh teladan atau figur yang sering berinteraksi dengan anak dan dibanggakan oleh mereka, tapi tidak jarang sikap guru di sekolah juga menjadi objek keluhan siswanya. Ada banyak macam penyebabnya, mulai dari ketidaksiapan guru dalam mengajar, tidak menguasai bidang pelajaran yang akan diajarkan, atau karena terlalu banyak memberikan tugas-tugas dan pekerjaan rumah. Selain itu, sikap sering terlambat masuk kelas di saat mengajar, bercanda dengan siswa-siswa tertentu saja atau membawa masalah rumah tangga ke sekolah, membuat suasana belajar semakin tidak nyaman, tegang dan menakutkan bagi siswa tertentu.
Guru selaku tokoh teladan atau figur yang sering berinteraksi dengan anak dan dibanggakan oleh mereka, tapi tidak jarang sikap guru di sekolah juga menjadi objek keluhan siswanya. Ada banyak macam penyebabnya, mulai dari ketidaksiapan guru dalam mengajar, tidak menguasai bidang pelajaran yang akan diajarkan, atau karena terlalu banyak memberikan tugas-tugas dan pekerjaan rumah. Selain itu, sikap sering terlambat masuk kelas di saat mengajar, bercanda dengan siswa-siswa tertentu saja atau membawa masalah rumah tangga ke sekolah, membuat suasana belajar semakin tidak nyaman, tegang dan menakutkan bagi siswa tertentu.
c. Sikap Teman
Ketikan seorang anak berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah, tentunya secara langsung anak bisa memperhatikan satu sama lainnya, sikap, perlengkapan sekolah, pakaian dan asesoris-asesoris lainnya. Tapi sayangnya tidak semua teman di sekolah memiliki sikap atau perilaku yang baik dengan teman-teman lainnya. Seorang teman yang berlebihan dalam perlengkapan busana sekolah atau perlengkapan belajar, seperti sepatu yang bermerk yang tidak terjangkau oleh teman-teman lainnya, termasuk tas sekolah dan alat tulis atau sepeda dan mainan lainnya, secara tidak langsung dapat membuat iri teman-teman yang kurang mampu. Pada akhirnya ada anak yang menuntut kepada orang tuanya untuk minta dibelikan perlengkapan sekolah yang serupa dengan temannya. Bilamana tidak dituruti maka dengan cara malas belajarlah sebagai upaya untuk dikabulkan permohonannya.
Ketikan seorang anak berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah, tentunya secara langsung anak bisa memperhatikan satu sama lainnya, sikap, perlengkapan sekolah, pakaian dan asesoris-asesoris lainnya. Tapi sayangnya tidak semua teman di sekolah memiliki sikap atau perilaku yang baik dengan teman-teman lainnya. Seorang teman yang berlebihan dalam perlengkapan busana sekolah atau perlengkapan belajar, seperti sepatu yang bermerk yang tidak terjangkau oleh teman-teman lainnya, termasuk tas sekolah dan alat tulis atau sepeda dan mainan lainnya, secara tidak langsung dapat membuat iri teman-teman yang kurang mampu. Pada akhirnya ada anak yang menuntut kepada orang tuanya untuk minta dibelikan perlengkapan sekolah yang serupa dengan temannya. Bilamana tidak dituruti maka dengan cara malas belajarlah sebagai upaya untuk dikabulkan permohonannya.
d. Suasana Belajar di Rumah
Bukan suatu jaminan rumah mewah dan megah membuat anak menjadi rajin belajar, tidak pula rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas belajar. Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar yang baik adalah rumah yang selalu penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas-fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games), seperti Game Boy, Game Watch maupun Play Stations. Kondisi seperti ini berpotensi besar untuk tidak terciptanya suasana belajar yang baik.
Bukan suatu jaminan rumah mewah dan megah membuat anak menjadi rajin belajar, tidak pula rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas belajar. Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar yang baik adalah rumah yang selalu penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas-fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games), seperti Game Boy, Game Watch maupun Play Stations. Kondisi seperti ini berpotensi besar untuk tidak terciptanya suasana belajar yang baik.
e. Sarana Belajar
Sarana belajar merupakan media mutlak yang dapat mendukung minat belajar, kekurangan ataupun ketiadaan sarana untuk belajar secara langsung telah menciptakan kondisi anak untuk malas belajar. Kendala belajar biasanya muncul karena tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku-buku penunjang (pustaka mini), dan penerangan yang bagus. Selain itu, tidak tersediannya buku-buku pelajaran, buku tulis, dan alat-alat tulis lainnya, merupakan bagian lain yang cenderung menjadi hambatan otomatis anak akan kehilangan minat belajar yang optimal.
Sarana belajar merupakan media mutlak yang dapat mendukung minat belajar, kekurangan ataupun ketiadaan sarana untuk belajar secara langsung telah menciptakan kondisi anak untuk malas belajar. Kendala belajar biasanya muncul karena tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku-buku penunjang (pustaka mini), dan penerangan yang bagus. Selain itu, tidak tersediannya buku-buku pelajaran, buku tulis, dan alat-alat tulis lainnya, merupakan bagian lain yang cenderung menjadi hambatan otomatis anak akan kehilangan minat belajar yang optimal.
Enam langkan untuk mengatasi mals belajar pada anak dan
membantu orangtua dalam membimbing dan mendampingi anak yang bermasalah dalam
belajar antara lain:
1. Mencari Informasi
Orangtua sebaiknya bertanya langsung kepada anak guna memperoleh informasi yang tepat mengenai dirinya. Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.
Orangtua sebaiknya bertanya langsung kepada anak guna memperoleh informasi yang tepat mengenai dirinya. Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.
2. Membuat Kesepakatan bersama antara orang tua dan anak.
Kesepakatan dibuat untuk menciptakan keadaan dan tanggung jawab serta memotivasi anak dalam belajar bukan memaksakan kehendak orang tua. Kesepakatan dibuat mulai dari bangun tidur hingga waktu hendak tidur, baik dalam hal rutinitas jam belajar, lama waktu belajar, jam belajar bilamana ada PR atau tidak, jam belajar di waktu libur sekolah, bagaimana bila hasil belajar baik atau buruk, hadiah atau sanksi apa yang harus diterima dan sebagainya. Kalaupun ada sanksi yang harus dibuat atau disepakati, biarlah anak yang menentukannya sebagai bukti tanggungjawabnya terhadap sesuatu yang akan disepakati bersama.
Kesepakatan dibuat untuk menciptakan keadaan dan tanggung jawab serta memotivasi anak dalam belajar bukan memaksakan kehendak orang tua. Kesepakatan dibuat mulai dari bangun tidur hingga waktu hendak tidur, baik dalam hal rutinitas jam belajar, lama waktu belajar, jam belajar bilamana ada PR atau tidak, jam belajar di waktu libur sekolah, bagaimana bila hasil belajar baik atau buruk, hadiah atau sanksi apa yang harus diterima dan sebagainya. Kalaupun ada sanksi yang harus dibuat atau disepakati, biarlah anak yang menentukannya sebagai bukti tanggungjawabnya terhadap sesuatu yang akan disepakati bersama.
3. Menciptakan Disiplin.
Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menciptakan kedisiplinan kepada anak jika tidak dimulai dari orang tua. Orang tua yang sudah terbiasa menampilkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari akan dengan mudah diikuti oleh anaknya. Orang tua dapat menciptakan disiplin dalam belajar yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Latihan kedisiplinan bisa dimulai dari menyiapkan peralatan belajar, buku-buku pelajaran, mengingatkan tugas-tugas sekolah, menanyakan bahan pelajaran yang telah dipelajari, ataupun menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam suatu pelajaran tertentu, terlepas dari ada atau tidaknya tugas sekolah.
Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menciptakan kedisiplinan kepada anak jika tidak dimulai dari orang tua. Orang tua yang sudah terbiasa menampilkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari akan dengan mudah diikuti oleh anaknya. Orang tua dapat menciptakan disiplin dalam belajar yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Latihan kedisiplinan bisa dimulai dari menyiapkan peralatan belajar, buku-buku pelajaran, mengingatkan tugas-tugas sekolah, menanyakan bahan pelajaran yang telah dipelajari, ataupun menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam suatu pelajaran tertentu, terlepas dari ada atau tidaknya tugas sekolah.
4. Menegakkan Kedisiplinan.
Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Untuk mengalihkannya gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak. Bila dapat melakukan aktivitas bersama di dalam satu ruangan saat anak belajar, orang tua dapat sambil membaca koran, majalah, atau aktivitas lain yang tidak mengganggu anak dalam ruang tersebut. Dengan demikian menegakkan disiplin pada anak tidak selalu dengan suruhan atau bentakan sementara orang tua melaksanakan aktifitas lain seperti menonton televisi atau sibuk di dapur.
Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Untuk mengalihkannya gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak. Bila dapat melakukan aktivitas bersama di dalam satu ruangan saat anak belajar, orang tua dapat sambil membaca koran, majalah, atau aktivitas lain yang tidak mengganggu anak dalam ruang tersebut. Dengan demikian menegakkan disiplin pada anak tidak selalu dengan suruhan atau bentakan sementara orang tua melaksanakan aktifitas lain seperti menonton televisi atau sibuk di dapur.
5. Ketegasan Sikap
Ketegasan sikap dilakukan dengan cara orang tua tidak lagi memberikan toleransi kepada anak atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya secara berulang-ulang. Ketegasan sikap ini dikenakan saat anak mulai benar-benar menolak dan membantah dengan alasan yang dibuat-buat. Bahkan dengan sengaja anak berlaku ’tidak jujur’ melakukan aktivitas-aktivitas lain secara sengaja sampai melewati jam belajar. Ketegasan sikap yang diperlukan adalah dengan memberikan sanksi yang telah disepakati dan siap menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukannya.
Ketegasan sikap dilakukan dengan cara orang tua tidak lagi memberikan toleransi kepada anak atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya secara berulang-ulang. Ketegasan sikap ini dikenakan saat anak mulai benar-benar menolak dan membantah dengan alasan yang dibuat-buat. Bahkan dengan sengaja anak berlaku ’tidak jujur’ melakukan aktivitas-aktivitas lain secara sengaja sampai melewati jam belajar. Ketegasan sikap yang diperlukan adalah dengan memberikan sanksi yang telah disepakati dan siap menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukannya.
6. Menciptakan Suasana Belajar
Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman merupakan tanggung jawab orangtua. Setidaknya orang tua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.
Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman merupakan tanggung jawab orangtua. Setidaknya orang tua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.
Ternyata malas belajar yang dialami oleh anak banyak
disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu sebelum anak terlanjur mendapat
nilai yang tidak memuaskan dan membuat malu orangtua, hendaknya orang tua
segera menyelidiki dan memperhatikan minat belajar anak. Selain itu,
menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta
tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat
jangka panjang. Jika enam langkah ini dapat diterapkan pada anak, maka sudah
seharusnya tidak adalagi keluhan dari orang tua tentang anaknya yang malas
belajar atau anak yang ngambek karena selalu dimarahi orang tuanya.
Anak tidak mau belajar atau malas untuk membaca buku
pelajaran, sering jadi keluhan orang tua. Anak lebih suka melihat tayangan
televisi, seperti sinetron, film atau bermain dengan teman-teman sebayanya.
Jika
anak tidak mau belajar, mereka menganggap bahwa belajar adalah suatu kegiatan
yang kurang menyenangkan dibandingkan dengan bermain atau nonton. Untuk
mengatasi anak yang malas belajar adalah dengan membuat anak menganggap belajar
adalah kegiatan yang menarik, menyenangkan atau membuat mereka sadar bahwa
belajar adalah suatu kebutuhan.
Selengkapnya,
berikut ini adalah tips untuk mengatasi anak malas belajar :
- Tanamkan
kesadaran kepada anak bahwa belajar adalah suatu kewajiban dan tanggung
jawab sebagai seorang pelajar yang hasilnya akan diraih dimasa mendatang.
- Berikan
contoh kepada sang anak. Orang tua dapat turut membaca buku-buku yang
bermanfaat saat anak sedang belajar.
- Orang
tua sebaiknya juga menanamkan budaya membaca di lingkungan keluarga.
- Ciptakan
suasana belajar yang menyenangkan. Buat ruang belajar yang menarik, rapi
dan tidak membuat anak malas di dalam ruang belajar.
- Berikan
motivasi kepada anak untuk belajar dengan cara yang baik, adakan
pendekatan sambil menyelami hati anak dengan menjadikan anak sebagai
sahabat. Jangan menyuruh anak belajar dengan memaksakan anak, apalagi
dengan cara yang kasar.
- Berikan
insentif kepada anak, baik berupa hadiah kesukaan mereka atau sekedar
pujian jika nilai anak bagus. Hal ini akan membantu memotivasi anak.
- Sebaiknya
orang tua lebih terbuka dengan anak dengan menanyakan permasalahan yang
dia hadapi, kenapa malas belajar, apa yang dapat membuat ia semangat untuk
belajar dan sebagainya. Bantu anak untuk mengatasi permasalahan tersebut.
- Pilih
waktu yang paling tepat untuk anak belajar. Hendaknya orang tua juga turut
membantu anak dengan tidak menonton televisi, atau tidak mendengarkan
musik keras-keras.
- Jadikan
waktu belajar ini menjadi kebiasaan rutin sehari-hari, dan sebaiknya orang
tua juga menemani dan membantu jika anak mengalami kesulitan saat belajar.
- Selain
waktu belajar yang rutin, sediakan juga waktu yang cukup untuk bermain,
menonton dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
